Integritas
 

Abad 20 dan waktu waktu selanjutnya dunia ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa. Di satu sisi ilmu pengetahuan diakui sangat besar sumbangannya dalam mensejahterakan kehidupan manusia di dunia, terutama kehidupan lahir. Ilmu pengetahuan telah memungkinkan bagi manusia untuk menguasai dunia. Siapa yang menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan lebih potensial untuk menguasai dunia. Dewasa ini terdapat kecenderungan, adanya “ penyalah gunaan ” penggunaan ilmu dan teknologi, sengaja atau tidak disengaja, untuk menguasai bangsa atau Negara lain. Kemungkinan terjadinya hal tersebut semakin besar ketika bangsa-bangsa, baik yang menguasai maupun yang dikuasai tidak memiliki landasan moral dan cultural yang kuat.

Pergaulan global membawa konsekwensi terjadinya perubahan (kehidupan) masyarakat yang cepat dan dinamis. Semakin kurangnya peka suatu bangsa terhadap perubahan masyarakat pada jamannya semakin menjadikan suatu bangsa tertinggal dari bangsa yang lain. Ia menjadi “koloni” dalam bentuk baru dari bangsa lain. Salah satu bentuk penjajahan yang sangat halus namun dapat berakibat fatal, adalah penjajahan kebudayaan yaitu dengan membentuk image baru yang memberikan janji kenikmatan lahiriah yang hedonistik. Hal tersebut terjadi akibat kurang seimbangnya perhatian suatu bangsa terhadap persoalan persoalan bidang humaniora (termasuk di dalamnya adalah kesenian) dibanding dengan bidang ekonomi dan teknologi.

Indonesia, dengan kandungan kekayaan dan keragaman seni budayanya yang meruah serta potensinya yang luar biasa memiliki peluang yang besar untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan kuat. Masalahnya, sampai saat ini materi yang demikian besar tersebut belum terkelola dan tergarap dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara kegiatan kreatif dan kegiatan ilmiah tentang kesenian. Disatu fihak kedua bidang masih saling mencurigai, dilain fihak dalam bidang kreatif telah menunjukkan adanya seniman seniman yang mampu berkarya bertaraf dunia, sedangkan dalam bidang keilmuan seni masih dalam tahap awal pertumbuhan. Semestinya, keduanya harus saling melengkapi, saling membantu, serta berjalan seiring dan setujuan.

Penyelenggaraan program pendidikan Pascasarjana dalam bidang penciptaan dan pengkajian seni ISI Surakarta merupakan salah satu jawaban terhadap kesenjangan ilmu pengetahuan dan kesenian yang di Indonesia dirasakan semakin lebar. Pada dasarnya ilmu pengetahuan, kesenian dan agama merupakan tiga dunia kehidupan yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi dan sangat dibutuhkan untuk pembentukan manusia yang utuh, sehingga perlu diintegrasikan untuk menciptakan sinergi yang bermanfaat.

Identitas

Mulai tahun akademik 2000/2001 STSI Surakarta dipercaya oleh pemerintah RI, dengan SK Dirjen DIKTI No 71/DIKTI/ Kep/2000, tanggal 27 Maret 2000 , untuk menyelenggarakan program pendidikan Pascasarjana Program Magister (S2) Program Studi Pengkajian Seni dan Program Studi Penciptaan Seni

 
     
 
Situs ini dikelola oleh UPT Pusat Informatika
Informasi diolah oleh Pascasarjana