Seminar Nasional Eksistensi Perpustakaan “Masa Silam, Era Kekinian, dan Masa Depan”

isi-surakarta-Seminar-Nasional-Eksistensi-Perpustakaan-“Masa-Sila-Era-Kekinian-dan-Masa-Depan”-1

Dalam rangka Dies Natalis ke-53, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ikut menyemarakan pencanangan bulan September sebagai bulan gemar membaca. Untuk itu UPT. Perpustakaan ISI Surakarta pada hari Rabu, 27 September 2017 di Ruang Seminar menyelenggarakan Seminar Nasional dengan Judul “Eksistensi Perpustakaan: Masa Silam, Era Kekinian, dan Masa Depan”. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I ISI Surakarta (Dr. Guntur, M. Hum). yang dilaksanakan. Opening acara oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Etnomusikologi ISI Surakarta melalui suguhan musik keroncong.

“Perpustakaan sudah mengalami perkembangan dari masa ke masa, untuk itu kita perlu membahas: 1) Apa eksistensi perpustakaan masa silam yang harus kita pertahankan? 2) Bagaimana seharusnya perpustakaan era kekinian? 3) Persiapan apa bagi penyelenggara perpustakaan dalam menghadapi era masa depan? Inilah di antara persoalan yang menjadi dasar untuk dipecahkan dalam kegiatan seminar kali ini”, ujar M. Ali Nurhasan Islamy, S.Sos ketua panitia seminar.

Seminar nasional ini diikuti oleh para pustakawan, pengelola perpustakaan, mahasiswa, dan pemerhati perpustakaan, baik perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, umum, dan perpustakaan khusus dari berbagai daerah, seperti Surabaya,  Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Seminar nasional kali ini menghadirkan narasumber yang masih tergolong muda dan berkompeten di bidang perpustakaan, antara lain : Safirotu Khoir, Ph. D  (UGM  Yogyakarta), Chandra Pratama Setiawan S.IIP., M.Sc. (Universitas Kristen Petra Surabaya) dan pembicara pendamping Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. (Dosen ISI Surakarta).

Paparan pembicara pertama, Safirotu Khoir menyampaikan bahwa perpustakaan tidak dapat lagi diartikan sebagai sebuah gedung sederhana dengan jajaran buku dan petugas yang menakutkan. Keberadaan perpustakaan di dunia telah tercatat dalam sejarah dan saat ini perkembangannya dapat mengisi lembar sejarah perpustakaan dunia. Perpustakaan di Indonesia, baik akademik, komunitas, atau publik, berkembang pesat sesuai dengan tuntutan jaman. Selain perpustakaan, pustakawan dan pemustakanya pun mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masa. Secara umum perkembangan perpustakaan dan pustakawan di dunia internasional terlihat beberapa transformasi layanan perpustakaan secara umum juga dirangkum untuk menggambarkan perpustakaan era kekinian terkait kolaborasi teknologi informasi (TI) di perpustakaan.

Sedangkan pmbicara kedua Chandra Pratama Setiawan berpendapat, bahwa kehadiran teknologi informasi dan perkembangannya membawa dampak dalam banyak aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya mencari, menggunakan informasi dan memanfaatkan layanan perpustakaan. Banyak penelitian yang menunjukan tren perubahan ini bahkan rendahnya minat untuk berkunjung ke perpustakaan. Dengan melakukan kajian pustaka, beberapa hal dapat dilakukan perpustakaan untuk mengimbangi tren perubahan tersebut. Berkaca dari perpustakaan masa lalu, kehadiran library as place yang berkolaborasi dengan berbagai pihak, akan memberikan nilai lebih bagi perpustakaan itu sendiri untuk melayani pemustakanya. Dengan kreativitas dalam mengembangkan strategi pemasaran, maka perpustakaan dapat  menciptakan berbagai macam kegiatan yang melibatkan para pemustaka berpartisipasi, sehingga dapat menciptakan kedekatan antara pemustaka dengan perpustakaan bahkan dengan pustakawan sekalipun. Perpustakaan dapat menjadi home away from home bagi pemustakanya.

Narasumber terakhir, Aris Setiawan lebih menyoroti eksistensi perpustakaan di ISI Surakarta. Ia menyatakan perpustakaan kalah eksistensinya dibanding dengan, misalnya ruang gamelan, ruang tari, lapangan terbuka, studio rekaman, karena di wilayah itu mahasiswa dan warga kampus seni berproses kesenian. Mengunjungi perpustakaan bukan sebuah kewajiban yang menyenangkan, hanya semata karena tuntuntan tugas dari dosen, atau karena tugas akhir kepenulisan (skripsi) yang mengharuskan mereka membaca dan mencatat. Menjadi satu persoalan yang belum tuntas hingga kini, bagaimana menumbuhkan minat menziarahi perpustakaan tanpa tendensi tugas atau kewajiban karena hendak ujian. Di samping itu, perpustakaan kampus seni juga dihadapkan perkembangan teknologi informasi serta aspirasi nilai estetik dari segi layanan perpustakaan. Tugas mengembangkan perpustakaan digital di ISI Surakarta tidak sepenuhnya dibebankan pada pustakawan, namun juga wajib berkolaborasi dengan ahli teknologi informasi (IT) untuk menyajikan tampilan dan pelayanan daring yang ideal.

“Harapannya melalui kegiatan seminar ini dapat memberikan kontribusi bagi peserta seminar dalam pengelolaan dan pengembangan perpustakaan seiring dengan kemajuan zaman. Peserta seminar dengan antusias mengikuti acara dari awal hingga selesai, dengan tanggapan dan harapan terhadap pelaksanaan seminar yang sudah baik dapat diagendakan di tahun mendatang lagi. Pada sesi terakhir Seminar Nasional “Eksistensi Perpustakaan: Masa Silam, Era Kekinian, dan Masa Depan” ujar, Kepala UPT. Perpustakaan ISI Surakarta, Nyono, S.Sos.

isi-surakarta-Seminar-Nasional-Eksistensi-Perpustakaan-“Masa-Sila-Era-Kekinian-dan-Masa-Depan”-2

Seminar Nasional Eksistensi Perpustakaan “Masa Silam, Era Kekinian, dan Masa Depan” di Ruang Seminar ISI Surakarta.