Diskusi Seni untuk Disabilitas

isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-1

Diskusi Seni untuk Disabilitas yang diselenggarakan di Teater Kecil KRT. Kesawa Kusuma ISI Surakarta Senin (11/11) berlangsung cukup menarik. Dipandu moderator dosen Seni Murni ISI Surakarta Albertus Rusputranto Ponco Anggoro, S.Sn., M.Hum., menampilkan narasumber yang kompeten dengan tema Seni untuk Disabilitas, hadir dr. Bambang Eko Sunaryanto, Sp.KJ, MARS –Direktur Utama Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor dan Ketua Asosiasi Rumah Sakit Jiwa Indonesia—membahas Seni dan Kesehatan jiwa. Kemudian ada Theresia Agustina Sitompul, S.Sn., M.Sn. dosen seni murni ISI Surakarta yang juga banyak bergerak melalui seni rupa khususnya untuk melakukan program art therapy bersama Dinas Kebudayaan DIY. Lalu ada Hana Alfikih atau lebih dikenal sebagai Hana Madness yang merupakan seniman doodle yang mengidap penyakit bipolar atau kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis.

Disepakati oleh semua narasumber, seni bisa menjadi media terapi penyembuhan bagi para ODGJ. Hana banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya “Aku termasuk penyintas disabilitas mental dan kemudian menggunakan seni untuk menjaga kewarasan, dulunya aku selalu melawan, menolak sama keadaan dan selalu menyalahkan orang lain. Sekarang udah nggak lagi, aku menerima kondisi ini dan membiarkan depresi dan halusinasi itu. “Aku punya gangguan disabilitas mental. Aku merasa butuh sesuatu untuk dijadikan senjata. Menunjukkan kalau ada eksistensi diriku,” ujarnya. Hana juga menegaskan tak ada yang salah pada orang dengan disabilitas mental, yang salah adalah orang-orang yang menancapkan stigma pada mereka. [humasisiska]

4c6f729d-9ac5-4833-ba91-d1c776660a22 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-2 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-3 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-4 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-5 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-6 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-7 isi-surakarta-Diskusi-Seni-untuk-Disabilitas-8