Kuliah Umum Kebudayaan “Posisi Tradisi Kita?”

isi-surakarta-kuliah-umum-kebudayaan-posisi-tradisi-oleh-prodi-teater-narasumber-ahimsa-1

Prodi. Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mendatangkan Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, seorang Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kuliah umum dilaksanakan pada hari Rabu, 28 September 2016 jam 09.00-11.00 WIB di Gedung Prodi. Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Surakarta. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh dosen dan mahasiswa Prodi. Teater, dan beberapa mahasiswa dan dosen di lingkungan Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Surakarta.

Tradisi selalu dipandang sebagai sesuatu yang otentik, original, murni sebagai hasil dari tindakan sosial dan budaya kelompok masyarakat tertentu. Oleh karena keotentikan, keoriginalan dan kemurniannya inilah tradisi memiliki nilai yang adiluhung sehingga patut untuk dijaga dan dilestarikan. Pada konteks ini pertanyaan yang muncul adalah bagaimana tradisi tersebut dikonstruk oleh masyaraknya sehingga menghasilkan bentuknya yang ada saat ini. Apakah unsur-unsur ekologis-agraris, historis dengan hadirnya kolonialisme, religius dan unsur-unsur lainnya turut mengkonstruk hadirnya tradisi yang ada saat ini, terutama dalam konteks seni pertunjukan. Sehingga pada konteks apa originalitas dan ke-adhiluhungan  melekat pada tradisi?

Di sisi yang lain otentisitas, originalitas, dan ke-adiluhungan tradisi dalam konteks seni pertunjukan, selalu dibenturkan dengan seni pertunjukan modern, terutama seni pertunjukan teater. Kehadiran teater modern (realis dan non realis) dianggap sebagai ancaman karena merepresentasikan barat, terhadap seni pertunjukan tradisi yang merepresentasikan lokalitas (Jawa). Pada posisi inilah tradisi dan modern selalu menemukan ketegangannya. Dalam konteks seni pertunjukan teater, tradisi selalu ingin mengambil komando dan mempunyai resistensi yang begitu kuat sekali terhadap seni pertunjukan modern. Kondisi ini bertolak belakang jika kita berbicara pada konteks pembangunan, kendali sosial dan budaya dipegang oleh mereka yang memegang kuat arus modernitas sedangkan tradisi selalu diposisikan sebagai ancaman dan penghalang modernisasi.

Persoalan klasik antara modernitas dan tradisi pada konteks seni pertunjukan bersifat laten, namun tarikannya terasa sangat kuat karena membawa jargon original, otentik, murni dan adhiluhung hasil dari ekspresi estetis masyarakat lokal (Jawa). Oleh karenanya berbagai kenyataan lain yang berada di luar sesuatu yang otentik dan original itu dianggap sebagai musuh dan ancaman bagi ke-adiluhung-annya, sehingga sangat terasa kuatnya resistensi tradisi terhadap modernitas, walaupun terkadang terjadi kolaborasi yang apik antar keduanya.

Wahyu Novianto S. Sn., M. Sn seorang dosen prodi teater dan juga salah satu panitia kegiatan kuliah umum kebudayaan mengatakan, “Berangkat dari realitas, perlu adanya pembacaan ulang terhadap tradisi dengan berangkat dari pertanyaan Bagaimana posisi tradisi kita? Pertanyaan ini bukan untuk meragukan eksistensi tradisi, namun lebih ditujukan untuk memposisikan tradisi saat ini. Terutama bagi Program Studi Seni Teater yang mengaklamasikan tradisi nusantara sebagai basis pengembangan dalam proses berkarya dan mengkaji seni pertunjukan.”

isi-surakarta-kuliah-umum-kebudayaan-posisi-tradisi-oleh-prodi-teater-narasumber-ahimsa-2Kuliah Umum Kebudayaan “Posisi Tradisi Kita?” di Gedung Prodi Seni Teater

Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta

isi-surakarta-kuliah-umum-kebudayaan-posisi-tradisi-oleh-prodi-teater-narasumber-ahimsa-3Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, seorang Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memaparkan kuliah umum kebudayaan tentang “Posisi Tradisi Kita?”