Mahasiswa ISI Solo Ngenger Budaya Jawa di Demping Lereng Lawu

Exif_JPEG_420

Pada hari Jumat-Sabtu 21-22 September 2018  sejumlah 90 lebih mahasiswa prodi televisi dan film ISI Surakarta ngenger budaya Jawa di Kampung Tinthir, Dukuh Demping, Desa Anggrasmanis, Jenawi Karanganyar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari integrasi mata kuliah Apresiasi Seni Tradisi dengan sebuah kegiatan masyarakat yang sedang berlangsung “Wisata Ngeger Kampung Tinthir V”. Mahasiswa menjadi bagian dari berbagai kegiatan ritual budaya di kampung thintir, seperti pembuatan tumpeng sego kokoh yang digunakan untuk ritual sesaji. Untuk mengenal sarana-sarana ritual lainnya, mahasiswa juga terlibat pembuatan janur banten, dan belajar membuat ketupat berbagai bentuk, serta pembuatan patung ogoh-ogoh untuk persiapan kirab budaya esok harinya.

Aspek pengetahuannya, mahasiswa memperoleh wawasan budaya Jawa dari Pemangku Adat “Dharma Jati Petani Jiwa”, Bapak Jero Mangku Djito Warsono, tentang konsep budaya Jawa “Jowo Jawoto, Jowo Jawi, Jowo Jewawut” dalam kehidupan orang Jawa dulu, kini, dan masa mendatang. Pemahaman laku hidup orang Jawa diajarkan oleh Mr. Ananda Markus Osari (Finlandia), yang telah puluhan tahun menjalani hidup orang Jawa, selain itu Ananda juga melatih mahasiswa senam Yoga di sebuah bukit “Menara Dewa” yang indah dan menawan. Selain itu, Mr. Patrick Vanhoebrouck (antropolog Belgia) mengajarkan tentang falsafah hidup orang Jawa, yang menjadi objek risetnya selama ini, serta mengajarkan bagaimana menjadi manusia wicaksana baik terhadap diri (self), orang lain, mahkluk, dan semesta alam.

Pada hari kedua di pagi hari, mahasiswa mengikuti retreat (jelajah mengenal situs) terkait konsep dasa mala, dipandu oleh mas Miko dan mas Indro. Situs yang dijelajahi seperti sendang panguripan, menara dewa, dan watu pamoksan. Ketika pagi sore dan malam, mahasiswa juga mengikuti tradisi ngopi seperti ngopi bareng Sri Kuncung, ngopi bareng Sri Kependem, ngopi bareng Sri Pangadeg, dan ngopi bareng Sri Gumantung. Adapun tengah malam mengikuti Ngidung Swara Gunung di Asram bersama Pemangku Adat dan mas Yona. Di akhir hari kedua, mahasiswa menjadi pasukan kirab pusaka dalam pembukaan “Jajanan Naliko Semono” yang dibuka oleh Bupati Karanganyar, Drs H Juliyatmono. Bupati sebagai simbol “Raja” dikirab mengelilingi jalan-jalan kampung Demping dalam formasi angka 8 sebagai representasi dari konsep budaya Jawa yaitu “Hastabrata”, dengan harapan memberikan pengayoman kepada rakyatnya (warga Demping). (News by RAS)

 

Exif_JPEG_420Belajar falsafah Jawa, Wicaksana terhadap semesta alam, diajarkan olehMr. Patrick Vanhoebrouck (Belgia) di tengah perjalanan jelajah situs.

ISI Surakarta_thintir_ketupatMahasiswa belajar membuat anyaman ketupat dan janur banten
untuk sarana ritual kampung tinthir.

ISI Surakarta_thintir_mangku DjitoPemangku Adat “Dharma Jati”, Bapak Jero Mangku Djito Warsono,
menggambarkan konsep budaya Jawa “Jowo Jawoto, Jowo Jawi, Jowo Jewawut”

ISI Surakarta_tinthir_kirab pusakaMahasiswa berpakaian adat Jawa siap menjadi pasukan kirab pusaka mengawal Bupati Karanganyar keliling kampung Thintir