Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Prof. Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Kajian Budaya Bali di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, Kamis (12/6/2025). Momen bersejarah ini ditandai dengan penyampaian pidato pengukuhan berjudul Legasi dan Viralitas Inovasi Tradisi: Pembelajaran dari Perjalanan Gong Kebyar.
Pada hari yang berbahagia dan bersejarah ini, dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur yang mendalam, saya berdiri di hadapan Bapak Ibu sekalian untuk menerima amanah dan kehormatan sebagai Guru Besar dalam bidang Kajian Budaya Bali,” ujarnya di hadapan sivitas akademika, seniman, dan undangan yang hadir.
Dalam pidatonya, Prof. Sukerna menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan semata keberhasilan pribadi, tetapi hasil perjalanan panjang serta dukungan banyak pihak. Ia mengapresiasi kontribusi para maestro dan akademisi yang telah mengembangkan seni tradisi, terutama Gong Kebyar.
“Nama-nama besar seperti Pande Made Sukerta, Sri Hastanto, Rahayu Supanggah, Nanik Sri Prihartini, I Nyoman Chaya, I Wayan Sadra, I Ketut Yasa, I Gusti Gede Putra, I Ketut Saba, dan I Nengah Muliana telah memberikan kontribusi fundamental melalui penelitian, penciptaan, dan pemikiran mereka,” ucapnya.
Lebih lanjut, Prof. Sukerna menjelaskan bahwa fenomena Gong Kebyar yang lahir di Bali Utara pada awal abad ke-20 merupakan respons artistik terhadap situasi sosial-politik masa penjajahan. Kecepatan, dinamika, dan semangat yang terkandung dalam musik ini mencerminkan semangat pembebasan masyarakat setempat.
Ia memaparkan bahwa Gong Kebyar adalah contoh konkret bagaimana tradisi bisa bertransformasi menjadi fenomena budaya yang viral tanpa kehilangan akar identitasnya. “Tradisi bukanlah warisan yang beku. Ia adalah entitas dinamis yang mampu berinovasi dan menjadi agen perubahan,” katanya.
Pidato tersebut juga membedah berbagai teori dari tokoh-tokoh seperti Everett Rogers, Malcolm Gladwell, Jonah Berger, hingga Gabriele Marino untuk menjelaskan bagaimana Gong Kebyar menyebar luas dan mengakar di masyarakat. Ia menyoroti pentingnya dukungan dari komunitas lokal, maestro, institusi pendidikan, hingga sektor pariwisata dalam menjadikan Gong Kebyar sebagai ikon budaya yang mendunia.
Di akhir pidatonya, Prof. Sukerna menekankan peran strategis ISI Surakarta sebagai jembatan antara tradisi leluhur dengan inovasi kontemporer. “Lembaga pendidikan seni seperti ISI Surakarta memiliki peran strategis sebagai penghubung antara warisan leluhur, penelitian ilmiah, kreasi artistik, dan diseminasi kepada publik,” ujarnya.
Pengukuhan ini tidak hanya menandai capaian akademik pribadi Prof. Sukerna, tetapi juga menjadi refleksi komitmen ISI Surakarta dalam menjaga dan mengembangkan seni tradisi agar tetap hidup, adaptif, dan relevan dalam kancah global. (Prahumas ISI Surakarta)







