Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, memenuhi undangan TATV Solo dalam kegiatan Launching Program TA Bizz yang dirangkaikan dengan siaran langsung podcast bertema “UMKM Solo Masa Depan: Kebijakan, Peluang, dan Akses Modal”, Jumat (23/1), pukul 14.00 WIB, bertempat di Studio TATV Solo, Mojongo.
Acara ini menghadirkan Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, dan Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala sebagai narasumber utama, membahas secara komprehensif kondisi UMKM Kota Solo hari ini hingga proyeksi masa depannya, mulai dari kebijakan pemerintah, tantangan permodalan, digitalisasi, penguatan SDM, hingga peran strategis seni dan ekonomi kreatif.
Dalam dialog tersebut, Wakil Wali Kota Surakarta memaparkan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Kota Solo, sekaligus sektor yang paling adaptif menghadapi perubahan. Pemerintah Kota Surakarta terus mendorong kebijakan yang berpihak pada UMKM melalui kemudahan perizinan, jalur aspirasi yang terbuka, program pembiayaan, serta pendampingan digital agar UMKM mampu naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Dr. Bondet Wrahatnala menegaskan bahwa seni tidak boleh dipandang sebagai biaya, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi UMKM. Investasi pada desain, branding, kemasan, dan narasi visual akan meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat identitas, serta membangun kepercayaan pasar
“Ketika UMKM berinvestasi pada seni dan desain, yang dibangun bukan hanya tampilan, tetapi nilai, citra, dan keberlanjutan usaha. Produk menjadi lebih mudah dikenali, lebih dipercaya, dan lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Dr. Bondet menekankan bahwa ISI Surakarta terbuka dan siap berkolaborasi baik dengan Pemerintah Kota Surakarta maupun masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Menurutnya, kampus bukan menara gading yang berjarak dengan realitas sosial, melainkan ruang pengetahuan yang harus hadir dan memberi manfaat langsung.
Dengan puluhan program studi yang dimiliki, ISI Surakarta berpotensi mendukung UMKM dari berbagai sisi, mulai dari branding, desain kemasan, video promosi, riset kultural, visual tenant, hingga penguatan perform dan storytelling produk. Selain itu, kurikulum ISI Surakarta juga memiliki mata kuliah kewirausahaan yang relevan untuk menjembatani dunia seni dan bisnis.
“Seni tidak harus anti-komersial. Justru dengan pendekatan kreatif yang tepat, seni bisa membantu UMKM memperoleh kepercayaan pasar, bahkan membuka akses permodalan,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, juga dibahas pentingnya peran mahasiswa seni sebagai mitra UMKM melalui program magang, proyek kolaboratif, hingga pendampingan kreatif dengan biaya terjangkau. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi lulusan seni untuk menjadi freelancer, wirausaha, maupun pelaku ekonomi kreatif yang mandiri.
Melalui program TA Bizz, TATV Solo diharapkan menjadi ruang dialog produktif yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat luas dalam satu ekosistem kolaboratif. Sinergi ini diyakini mampu mendorong Solo sebagai kota budaya yang bertransformasi menjadi kota ekonomi kreatif yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global.


